Posted 7 hours ago
Posted 8 hours ago

PRESIDEN AGAR JELAS DALAM TINDAKAN

Press Release (Kamis, 24 November 2011)

Hari ini, Indonesia menghadapi masalah yang berhubungan dengan kepentingan asing dengan sikap Tidak jelas siapa yang dibela.

1. Perdagangan Bebas

Perlu kejujuran dan pembelaan yang nyata, hari ini pasar di Indonesia dikuasai oleh produk? produk asing. dari mulai industri teknologi, tekstil dan produk tekstil, farmasi, bahkan consumer goods. Tanpa pembelaan yang jelas industri dalam negeri akan mati.

Produk asing artinya ekonomi asing, produk indonesia artinya ekonomi Indonesia. Setiap bangsa memiliki nasionalisme, bangsa asing juga memiliki nasionalismenya sendiri, nasionalisme Indonesia hanya dimiliki anak bangsa Indonesia

2. Menghadapi Kepentingan Asing

Pertemuan di Bali dalam KTT Asia Timur tidak membawa manfaat bagi bangsa Indonesia jika yang terjadi hanya kontrak ?kontrak pembelian untuk perusahaan asing. kontrak untuk Boeing senilai Rp. 210 Trilyun adalah anti klimaks dalam pembangunan ekonomi terutama pada industri pesawat terbang dalam negeri. Dengan kontrak tersebut Bangsa Indonesia terlibat dalam penyelesaian masalah ekonomi dan pengangguran di negara lain, sementara mengabaikan masalah pengangguran di negeri sendiri.

3. Penyelesaian Issue Dengan Negara Lain

Indonesia perlu menunjukkan sikap sebagai bangsa besar dan bermartabat, sikap yang tegas dalam menghadapi issue dengan negara tetangga, rencana pangkalan militer di Darwin, serta kepentingan asing menyangkut wilayah kedaulatan Indonesia.

Saat ini banyak pihak ?pihak asing yang sedang masuk dan aktif di papua, tanpa tindakan yang tegas kita membawa Indonesia dalam kesulitan yang lebih besar.

Ir. H. Heppy Trenggono M.Kom
Pemimpin Gerakan Beli Indonesia

Posted 10 hours ago

KTT Asia Timur, Indonesia menyelesaikan pengangguran bangsa lain, melupakan pengangguran di negeri sendiri.

Posted 1 day ago

Kirab Gerakan Beli Indonesia di Solo

(Source: www.youtube.com)

Posted 1 day ago

INDONESIA MEMBUTUHKAN PEJUANG!

Dalam sebuah acara yang diadakan salah satu anak perusahaan saya, salah satu sahabat saya Bp. Teguh, Komisaris Kospin Jasa Pekalongan dalam sambutannya menceritakan sebuah kisah tentang pedagang garam yang biasa mengirim dagangannya dengan truk ke kota – kota di pulau jawa, suatu ketika sopir truk yang membawa barang dagangannya melaporkan kepada sang majikan bahwa grosir-grosir tidak ada yang mau menerima lagi garam yang dibawanya karena harganya terlalu mahal, sang sopirpun bingung karena menurut pengetahuannya tidak ada kenaikan harga sedikitpun, dalam percakapan telpon dengan sang majikan sopir menanyakan apa yang harus diperbuatnya karena perjalanan sudah terlalu jauh, menurut sang pedagang cobalah minta tolong untuk titip saja ke grosir yang sudah dikenal baik karena kalau diteruskan perjalanan akan rugi, dan kalau dibawa pulangpu bagaimana akan terjual? Akhir cerita, terpaksa sang sopir membawa kembali garamnya karena tidak ada satupun grosir yang bersedia untuk dititipi dagangannya. Apa yang sesungguhnya terjadi? Ternyata sang pedagang tidak pernah menyangka bahwa hari ini di grosir – grosir telah banyak beredar garam impor yang harganya jauh lebih murah dari garam yang dijualnya.

Ya Allah, apa yang sedang menimpa bangsaku? Hampir seluruh hadirin yang mendengar cerita pak Teguh tak kuasa menahan rasa sedih, membayangkan keadaan bangsa ini, semakin hari sepertinya semakin banyak kisah sedih yang harus didengar. Garam impor hari ini bisa masuk dengan bebas ke Indonesia karena pasar bebas yang diberlakukan di negeri ini. Seandanya Penguasa bisa memiliki perasaan yang sama dengan yang dirasakan oleh pedagang garam, seandanya para pebisnis yang mengimpor garam bisa memiliki perasaan yang sama dengan pedagang garam, mungkin kisah sedih pedagang garam tidak perlu kita dengar pada malam itu.

Skenario ekonomi dunia hari ini, maju atau tidaknya sebuah bangsa ditentukan oleh maju atau tidaknya sektor swasta, berapa jumlah pebisnis yang ada di suatu Negara menentukan kuat atau lemahnya ekonomi sebuah Negara. Namun bagi Indonesia, pebisnis ternyata tidak kita butuhkan! Korupsi terbesar BLBI senilai Rp. 600 trilyun di negeri ini dilakukan oleh mereka yang menyebut dirinya sebagai pebisnis. Perusakan hutan dan pencurian kayu secara besar-besaran hingga membuat Negara China mampu menimbun kayu mentah asal Indonesia secara illegal dilakukan oleh mereka yang mengaku dirinya sebagai pebisnis. Indonesia jelas tidak membutuhkan pebisnis! Indonesia juga tidak membutuhkan Penguasa, masuknya garam impor adalah sebuah sikap enteng para Penguasa yang membuka pasar bebas tanpa kecerdasan. Dan bukan hanya pedagang garam saja yang bergurguran, namun juga petani kentang, petani beras, produsen tekstil, elektronik, hingga industri pesawat terbang hari ini tidak bisa menjual produknya di negerinya sendiri. Untuk mengatasi tantangan ke depan, bangsa Indonesia membutuhkan pejuang! Indonesia tidak membutuhkan pebisnis, karena yang dibutuhkan adalah pebisnis yang pejuang. Pegawai pajak tidak diperlukan di Indonesia, karena yang diperlukan adalah pegawai pajak yang pejuang. Polisi juga tidak perlu, karena Indonesia perlu polisi yang pejuang. Wakil Rakyat tidak ada gunanya di Indonesia, karena Indonesia membutuhkan wakil rakyat yang pejuang. Dan Indonesia tidak perlu ada penguasa, karena Indonesia memerlukan penguasa yang pejuang. Untuk maju, Indonesia hanya butuh Pejuang, bukan yang lain!